KOMPAS.com -- Día
Internacional Del Museo 2010 – 18 de Mayo. Begitu sebuah pesan pendek dari
jejaring sosial, berbentuk micro blogging, men-tweet saya beberapa hari lalu.
Pesan itu dikirim dari seorang rekan yang tinggal di negeri Bundesrepublik
Deutschland. Selanjutnya, pesan lain terkirim lagi, Museos Para La Armonía
Social: El Museo Sefardí Celebrará La Noche de Los Museos el Próximo 15 de
Mayo, lengkap beserta alamat website yang bisa dicek lebih jauh.
Pesan itu adalah
sebuah pengingat, bahwa Toledo – sebuah kota di Spanyol yang mendapat
penghargaan sebagai World Heritage Sites dari UNESCO pada 1986 – kota asal si
rekan tadi, siap merayakan Hari Museum Internasional (HMI), khususnya Museum
Sefardi.
Museum itu
sebenarnya tak sendirian. Ia hanya satu dari sekian banyak museum di berbagai
kota di dunia, khususnya Eropa, yang menggelar perayaan “Night of Museums” pada
Sabtu, 15 Mei 2010. Sebuah perayaan dalam rangka HMI 2010 yang memilih tema
“Museums For Social Harmony” (Museum untuk Keharmonisan Sosial). Di Eropa,
selama lebih dari 30 tahun sepanjang International Council of Museum (ICOM -
Dewan Museum Internasional) menetapkan 18 Mei sebagai HMI, bulan Mei sudah
menjadi Bulan Museum (Museum Month in Europe).
Dalam website resmi
ICOM disebutkan, European Night of Museums diperkenalkan tahun 2005 oleh
Departemen Kebudayaan Perancis. Tujuannya adalah untuk menarik pengunjung muda
dan keluarga dan untuk memobilisasi pengunjung di Eropa dengan kegiatan yang
memberi peran dalam pembangunan Kebudayaan Eropa.
Tahun 1977 ICOM
menetapkan HMI untuk mendorong kesadaran publik terhadap peran museum dalam
pengembangan masyarakat. Dalam rilis ICOM tentang HMI 2010, disebutkan, pada
tahun 2009, HMI berhasil menggaet rekor dengan partisipasi hampir 20.000 museum
di 90 negara. Di tahun ini, komunitas museum di seluruh dunia akan merayakan
HMI pada hari-hari di seputaran 18 Mei. Mereka akan selalu kreatif
mengorganisir tur museum baik siang maupun malam, lokakarya, konferensi, dll
untuk semua pengunjung museum.
Tema tahun ini
memfokuskan pada harmoni sebagai konsep penting baik untuk kemanusiaan maupun
untuk mewakili budaya timur. Dasar dari harmoni terletak pada dialog,
toleransi, koesksistensi dan pembangunan, berdasarkan pada keberagaman,
perbedaan, kompetisi, dan kreativitas. Pada dasarnya, menurut ICOM, harmoni
sosial adalah sebuah persetujuan untuk mencari kesamaan dengan tetap
mempertahankan perbedaan.
Selain museum di
kota-kota Spanyol, juga Jerman, beberapa negara Afrika juga ikut merayakan HMI.
Negara tetangga Indonesia tak ketinggala, Malaysia dan Singapura. Dalam daftar
ICOM, Singapura masuk dalam negara yang berpartisipasi dalam HMI. Acara digelar
di berbagai museum antara lain, Raffles Museum of Biodiversity Research,
National Museum of Singapore, Singapore Art Museum, dan Singapore Coins and
Notes Museum.
Sedangkan Malaysia
memusatkan perayaan di Sabah. Sebanyak 500 museum di Negeri Jiran itu akan
terlibat. Menteri Pariwisata, Lingkungan, dan Kebudayaan Malaysia Datuk Masidi
Manjun tahun lalu menegaskan, dalam rangka menaikkan popularitas Sabah State
Museum, beragam program dilakukan, termasuk menjadi tuan rumah HMI di Malaysia.
Manjun menyatakan, hingga Oktober 2009 hampir 400 ribu orang mengunjungi museum
itu dengan pendapatan sekitar RM 430 ribu pada September tahun lalu.
Lantas bagaimana
dengan Jakarta? Di Jakarta, HMI pertama kali dirayakan tahun lalu. Itupun
digelar sangat sederhana di Taman Fatahillah dengan anggaran patungan dari
komunitas museum di Kota Tua (Museum Bahari, Museum Sejarah Jakarta, Museum
Wayang, Museum Seni Rupa dan Keramik, Unit Pelaksana Kota Tua, dan Balai
Konservasi DKI ditambah Museum Bank Mandiri dan Museum Bank Indonesia) .
Bagaimana dengan tahun ini? Jawaban dari beberapa “penguasa” museum di Kota Tua
sederhana saja dan hampir senada, “Ada acara di Taman Fatahillah.”
Jika sejak beberapa
pekan bahkan beberapa bulan lalu, warga di negeri lain sudah mendapat informasi
jelas tentang apa yang bisa dinikmati pada perayaan HMI, maka tidak demikian di
Jakarta. Jika besok sekitar tengah malam WIB warga di Eropa bisa menikmati
museum sampai malam dan gratis, maka warga Jakarta masih harus menantikan tepat
di tanggal 18 Mei yaitu hari kerja, hari Selasa.
Pada situs jejaring lainnya, beberapa undangan dari
komunitas tiba-tiba menumpuk. Semua acara digelar pada 18 Mei, sekali lagi di
hari kerja, dengan pemberitahuan yang lumayan mendadak. Hari Museum
Internasional, sama seperti kegiatan museum, masih saja tak peka pada urusan
publikasi, apalagi promosi.
Pesan Hari Museum Internasional, 18
Mei 2012 
Tiap tahun, Komite
Penasehat ICOM mengusulkan tema yang dapat diinterpretasi oleh museum untuk
meningkatkan peran museum di hati masyarakat. Adapun tema Hari Internasional
Museum 2012 ini adalah Museums in a Changing World. New challenges, New
inspirations. (Museum dalam Perubahan Dunia. Tantangan-tantangan Baru dan
Inspirasi-inspirasi Baru).
Kini, dunia berubah
lebih cepat dari sebelumnya. Teknologi baru menyampaikan ide-ide baru, gigabyte
informasi, berita-berita iklim yang tak stabil meningkat, semuanya berbagi di
media social. Museum modern harus berkompetisi untuk suara audio terhadap
kecepatan yang kuat dari latar belakang ini.
Museum Dalam
Perubahan Dunia adalah pengakuan bahwa institusi dihadapkan dengan interpretasi
dan eksistensi yang terus meningkat dan berubah-ubah. Tiap institusi mungkin
menghadapi keunikan tujuan, minat dan audiens. Tetapi keperluan untuk
berkembang dengan cepat dalam wajah perubahan-perubahan ini adalah sesuatu yang
mengikat semua institusi besar dan kecil. Oleh karena itu, pesan Hari Museum
Dunia 2012 ini adalah tentang museum-museum yang sedang tumbuh dan membentuk
masa depannya, seperti tentang menunjukkan dan menginterpretasi isu-isu
perubahan iklim dan media elektronik baru.
Untuk membantu anda
terhubung secara makna dengan tema ini, ada lima topik yang bisa membangun
program spesifik anda sebagai berikut:
1.Peran museum dalam
masyarakat ‘baru’. Museum menghadapi tantangan unik terkait dengan hal-hal
sosial, politik dan lingkungan ekologis. Museum memainkan peran kunci dalam
pengembangan melalui pendidikan dan demokratisasi, juga sebagai pelayan saksi
di masa lalu dan menjaga harta karun kemanusiaan demi generasi masa depan.
2.Keberlangsungan
lingkungan hidup. Museum secara konstan mengembangkan dan memperhalus apa yang
museum lakukan untuk membuat minat museum terhadap sumber-sumber lingkungan
hidup. Museum menjadi tempat yangbaik untuk advokasi keberlangsungan lingkungan
hidup, juga tempat yang baik untuk berlatih advokasi.
3.Menggunakan masa
lalu untuk membangun masa depan. Museum menjamin bahwa museum adalah penjaga
warisan budaya dunia yang bersifat antargenerasi dan menciptakan jejaring
terus-menerus terhadap rasa terima kasih di masa lalu menuju pesan universal.
4.Media Baru. Museum
secara cepat belajar menggunakan beberapa peluang komunikasi baru yang
berasosiasi dengan media baru dan menunjukkan kemampuan untuk bereaksi dengan
rasa hormat.
5.Innovasi. Merespon
perubahan sosial dan beradaptasi dengan harapan pengunjung, yaitu museum yang
berinnovasi.